2,5 Tahun tanpa Google Search di Mobile: Dual-System yang Gak Seindah Kata, tapi Works

77% pencarian di HP saya lakukan lewat Startpage, bukan Google. Selama 2,5 tahun, saya pakai Brave Search + Startpage di HP, dan Google tetap di PC. Jadi nggak beneran “hapus Google total,” tapi lebih ke dual-system yang beda engine buat beda situasi.

Hasilnya? Tracking saya jauh lebih sedikit, iklan juga lebih random (artinya tanpa personalisasi). Tapi Startpage kadang lambat (dari pengalaman saya, rata-rata sekitar 3 detik lebih lama dari Google) dan session-nya gak bertahan lama. Brave Search? Hasilnya tidak selengkap Google. Nggak seindah yang dibayangkan orang, tapi juga gak sejelek yang ditakutkan.

Pakai dua search engine yang berbeda itu bisa works, asalkan kamu tau kapan pakai yang mana. Saya catat data dari 292 pencarian selama 30 hari, dan berikut cerita saya.

Kenapa Saya Mulai? Personalisasi

Alasan saya mulai menghindari Google Search di HP adalah karena personalisasinya. Setelah cari “laptop harga 10 jutaan” di Google, 2-3 jam kemudian feed Instagram dan YouTube penuh iklan laptop.

Iklan itu gak muncul secara kebetulan. Google nyimpen data pencarian saya, bikin profil, dan profil itu yang bikin iklan di platform lain jadi terlalu relevan.

Saya gak cuma kesal liat iklan, saya kesal karena Google tahu saya terlalu baik.

Dan masalahnya, ad-blocker biasa di HP gak bisa solve ini. Iklan yang muncul di Instagram dan YouTube itu bukan cuma banner yang bisa di-block. Itu hasil dari tracking yang terjadi di level akun dan search history oleh Google.

Brave browser punya Shields yang block iklan di level browser, tapi yang lebih penting buat saya: Brave Search gak nyimpen data pencarian saya. Jadi profil saya gak kebangun, dan iklan yang muncul jadi lebih random, lebih gak nyambung. Itu yang saya mau.

Saya mulai pakai Brave browser di HP sejak Maret 2024. Bulan pertama, saya langsung nemu batasannya: Brave Search punya indeksnya sendiri, tapi masih belum sekelas Google buat kueri niche. Pada bulan Februari 2026, indeks pencarian Brave mencapai 40 miliar halaman terindeks, meskipun niche site sering belum ke-index.

Saya gak nemu hasil relevan dari kira-kira seperempat kueri saya. Akhirnya saya tambahin Startpage sebagai cadangan. Awalnya cuma iseng, eh lama-lama malah Startpage yang paling sering kepake. Kalau kamu penasaran ada mesin pencari apa aja selain Google yang bisa dicoba, saya sudah bahas beberapa di daftar mesin pencari alternatif ini.

Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi selama 2,5 tahun, bukan rekomendasi profesional soal privasi. Klaim-klaim tentang tracking dan performa adalah pengamatan personal, bukan pengujian laboratorium.

Cara Saya Pakai? Brave Search Dulu, Startpage Kalau Gagal

Saya gak punya aturan ketat soal kapan pakai yang mana, yang saya pakai itu yang hasilnya bagus, dan kalau kurang, ganti.

Dari data saya, ada dua pola: kadang saya langsung Startpage (karena udah tau Brave pasti gagal untuk tipe kueri tertentu), kadang saya mulai di Brave dan switch kalau hasilnya kurang. Untuk kueri brand, manga, atau berita industri, saya udah hafal Brave gak bisa kasih hasil yang saya butuhkan, jadi langsung Startpage. Untuk kueri random atau personal, hasilnya campuran, tapi Startpage tetap lebih sering kepake.

Kalau saya mulai di Brave dan hasilnya bagus, selesai. Gak perlu apa-apa lagi.

Tapi kalau gagal, saya langsung pindah ke Startpage. Dan hampir selalu, hasilnya langsung ketemu. Tentunya karena Startpage ini menggunakan data dari hasil Google & Bing.

Selain manga, ada beberapa kueri lain yang rutin bikin saya pindah ke Startpage:

  • Kueri brand, saya cari nama produk atau software tertentu, sering gagal di Brave Search.
  • Berita industri, karena kerjaan saya SEO, saya buka Search Engine Journal, Search Engine Land, atau publikasi marketing lain hampir tiap hari kerja, dan hasil terbaru dari situs-situs ini biasanya jauh lebih lengkap di indeks Google.
  • Dokumentasi teknis, saya cari dokumentasi API, Stack Overflow, atau forum developer, dan Brave Search gak index halaman-halaman ini secepat Google.

Note: Saya gak testing Google langsung di HP karena Startpage itu proxy ke Google. Dia ngirim kueri secara anonim ke Google (dan sejak 2023 ke Bing juga), terus nampilin hasilnya tanpa Google tahu itu saya. Tapi perlu dicatat: Google tetap memproses kueri tersebut, tapi tidak tahu kalau saya yang melakukan pencarian karena adanya proxy Startpage. Jadi, testing Google vs Startpage itu kayak testing mobil yang sama cuma beda cat: gak ngasih insight baru.

Data: 292 Pencarian yang Saya Catat

Dari 292 pencarian, 224 di antaranya pakai Startpage, baik karena saya langsung buka Startpage (karena tau Brave pasti gagal), maupun karena saya switch setelah coba Brave duluan. Artinya 77% browsing HP saya lewat Startpage.

Sebelum saya cerita hasilnya, saya perlu jujur: ini bukan studi akademik. Saya bukan data scientist. Tapi saya punya kebiasaan logging, dan untuk artikel ini, saya bikin sistem tracking sederhana selama 30 hari (1-30 Juni 2026).

Yang saya track: query (apa yang saya ketik), engine pertama (Brave atau Startpage), apakah saya switch, alasan switch, dan kategori kueri (brand, niche, berita industri, dokumentasi teknis, personal/random).

“Switch” di sini artinya saya mulai di satu engine, gak nemu hasil yang saya butuhkan, lalu buka engine lain dan pakai hasil dari engine kedua itu. Kalau saya buka Startpage langsung tanpa coba Brave duluan, itu gak dihitung sebagai switch.

Saya logging lewat spreadsheet sederhana, bukan app fancy. Setiap kali saya search di HP, saya catat. Tapi kenyataannya, saya lupa catat sekitar 15-20 kali selama 30 hari (terutama pas lagi buru-buru), jadi angka-angkanya punya margin error sekitar 5-7%. Dari 30 hari, saya dapet 292 entry yang bisa dianalisis. Kalau saya gak lupa, angkanya mungkin sekitar 310-an.

Keterbatasan: Ini data dari satu orang, satu device (HP), satu kebiasaan browsing. Bukan representasi universal. Tapi buat pengalaman pribadi, data ini cukup untuk nunjukin pola.

Apa yang Data Ini Tunjukin?

Dari 292 pencarian, saya bagi berdasarkan tipe kueri dan seberapa banyak yang pakai Startpage, baik langsung maupun setelah switch dari Brave:

KategoriTotal kueriPakai StartpagePersentase
Brand/product413688%
Niche (manga, forum)383387%
Berita industri524077%
Dokumentasi teknis342574%
Personal/random1279071%

Yang perlu dipahami: 77% ini termasuk dua macam: (1) saya langsung buka Startpage tanpa coba Brave, dan (2) saya mulai di Brave, gagal, lalu switch ke Startpage. Angka “switch rate” di bawah hanya mengukur yang kedua, yaitu berapa kali saya mulai di Brave tapi akhirnya pindah ke Startpage.

Kategori dengan persentase tertinggi: brand (88%) dan niche (87%). Kalau saya nyari nama produk atau konten di website kecil, 88% dari waktu saya pakai Startpage.

Bahkan untuk personal/random queries, resep masakan, musik, pertanyaan umum, Startpage tetap dominan di 71%. Brave cukup buat sebagian, tapi bukan sebagian besar.

Yang penting: Startpage gak pernah gagal buat saya, karena dia proxy ke Google. Tapi Brave sering gagal. Jadi arahnya selalu satu: Brave ke Startpage, gak pernah sebaliknya.

Dari data 292 kueri ini, saya nemu satu pola yang cukup konsisten: Brave Search punya zona kuat dan zona lemah yang predictable. Kalau saya tau tipe kueri saya masuk zona yang mana, saya bisa prediksi engine mana yang akan work bahkan sebelum saya ketik.

Zona kuat Brave Search:
Kueri personal, populer, gak time-sensitive. Resep masakan, definisi istilah, pertanyaan umum, navigasi, dan kueri berbahasa Inggris (internasional). Kueri yang udah di-index oleh semua search engine karena volume-nya tinggi. Dari data saya, kueri personal/random adalah zona terkuat Brave, dan saya tetap pakai Brave untuk 29% kueri ini (37 dari 127 kueri berhasil tanpa switch).

Zona lemah Brave Search:
Kueri yang butuh indexing yang dalam, recent, proprietary, dan juga kueri berbahasa Indonesia. Nama brand spesifik (Brave cuma cukup untuk 12%), niche community (13%), berita industri yang baru publish (23%), dokumentasi teknis yang sering update (26%).

Pola ini saya dapatkan dari 30 hari catatan harian saya. Dan begitu saya kenali polanya, cara saya pakai kedua search engine tersebut berubah total.

Catatan tambahan: Indeks Brave Search terus bertumbuh hingga jumlahnya mencapai 40 miliar indeks di Februari 2026. Zona kuat Brave mungkin akan melebar seiring waktu. Tapi untuk sekarang, pola di atas masih berlaku buat saya.

Learning Curve: Switch Rate Turun Seiring Waktu

MingguSwitch rate
Minggu 140%
Minggu 231%
Minggu 322%
Minggu 418%

Switch rate turun dari 40% jadi 18% dalam 4 minggu. Bukan karena Brave Search improved, indeksnya tetap sama selama sebulan. Tapi karena saya belajar prediksi kueri mana yang akan gagal. Begitu saya kenali polanya, saya langsung Startpage tanpa perlu coba Brave dulu.

Sebelum (bulan 1-2):

  1. Selalu mulai di Brave Search
  2. Gak nemu hasil, frustasi, switch ke Startpage
  3. Ulangi 5-10 kali sehari

Sekarang (bulan 12+):

  1. Kueri yang udah saya tau zona-nya → langsung engine yang tepat
  2. Kueri brand, niche, berita industri, dokumentasi teknis → langsung Startpage
  3. Kueri yang gak yakin → coba Brave dulu, switch kalau perlu

Kurang lebih polanya seperti ini. Karena saya sudah tau tool mana yang cocok untuk situasi apa, saya tidak menghabiskan waktu untuk “coba-coba”.

Kendala yang Saya Hadapi

Dual-system ini gak sempurna. Ada beberapa hal yang bikin gak nyaman:

Masalah Startpage Langsung

Session gak bertahan lama, saya buka tab lain 5 menit, balik ke Startpage langsung pop-up “confirm form resubmission.” Refresh, hasil ilang. Bulan pertama saya sering teriak kecil: “astaga, ilang lagi.” Google gak pernah kayak gini.

masalah session singkat di startpage

Selain itu, setiap kueri harus lewat proxy dulu. Dalam pengalaman saya, selisih waktunya sekitar 3 detik dibanding Google langsung — diukur dari waktu klik enter sampai hasil muncul, bukan benchmark resmi. Kalau kamu udah biasa sama Google yang instant, selisih itu kerasa lama.

Ribet Maintain Dua Setup

History pencarian di HP beda dari history di PC. Kadang saya nemu sesuatu di HP, lupa keyword-nya waktu buka PC. Update ekstensi di PC, pastikan Brave Shields masih work di HP, cek apakah Startpage masih proxy-nya lancar. Semua ini extra overhead yang gak ada kalau pakai satu engine aja.

Trade-off Soal Iklan

Karena fingerprint saya lebih susah dilacak, iklan yang muncul lebih random. Bukan trade-off yang jelek, tapi buat kamu yang suka iklan yang relevan, ini perlu dipertimbangkan.

Ketika Google Memang Lebih Baik (dan Kenapa Itu Oke)

Personalisasi Google itu rill. Mereka tahu timezone, bahasa, search history, dan lokasi saya, jadi hasil pencarian biasanya lebih relevan dari awal. Startpage gak bisa kasih ini karena dia menghapus identitas saya.

Integrasi ekosistem Google juga menjadi value tersendiri: Kalau saya cari restoran, Google langsung nampilin Maps, rating, jam buka, reservasi. Kalau saya cari flight, Google Flights langsung muncul. Belum lagi AI Overviews-nya Google yang kadang lebih cepat dari klik link mana pun.

Dual-system ini bukan buat semua orang. Ini buat saya, karena frustrasi saya spesifik: personalisasi yang kebanyakan sampai iklan jadi too personal. Kalau kamu gak punya masalah itu, atau kamu udah nyaman dengan personalisasi Google, atau kamu heavy user Google Workspace, stick with Google. Gak ada yang salah dengan itu.

Dan ya, saya tau ini kedengarannya kontradiktif. Saya mulai pindah dari Google karena personalisasi yang kebanyakan, tapi saya akui personalisasi itu bikin pencarian lebih baik untuk kebanyakan skenario.

Bedanya: saya gak mau Google punya data saya. Hasil pencarian tanpa personalisasi memang kurang tajam, tapi ini juga berarti hasil pencarian saya murni 100% kualitasnya bagus, bukan karena personalisasi profil saya.

Kenapa HP dan PC Beda Pengalaman

Pengalaman saya di HP dan PC ternyata gak sama, dan alasannya bukan soal mesin pencari, tapi soal kontrol. Di HP, saya gak punya banyak kontrol, gak gampang pasang ekstensi buat blokir tracker dan iklan di hasil pencarian. Saya pernah pakai uBlock Origin di mobile, tapi Google suka ganti element name, jadi filter yang tadinya jalan tiba-tiba gak work lagi.

Brave Shields (built into the browser) works better on mobile daripada extension apapun, karena Firefox mobile punya extension API yang terbatas, jadi ad blocker seperti uBlock Origin di Firefox mobile gak seefektif di desktop.

Di PC, ceritanya beda. Saya kerja sebagai SEO, jadi PC ini tempat kerja, dan saya bisa pasang ekstensi uBlock Origin buat blokir tracker dan iklan di SERP agar lebih santai buka Google di PC dibanding di HP. Personalisasi tetep ada sih, tapi kerasanya lebih kecil, mungkin karena kueri-nya juga lebih netral, riset, data, bukan hal personal.

Nah, dari sini saya ambil pertanyaan simpulan “kontrol apa yang saya butuhkan di device ini?” Di HP, saya butuh kontrol atas tracking dan privasi. Di PC, saya butuh kontrol atas hasil pencarian. Dan dua kontrol itu ternyata gak bisa disatukan dalam satu search engine.

Apakah Saya Akan Balik ke Google?

Setelah lebih dari 2,5 tahun, saya nyaman dengan dual-system kayak gini. Apakah saya bakal balik ke Google sepenuhnya? Enggak. Setidaknya untuk device mobile. Personalisasi dan privasi tetap jadi alasan utama saya, dan saya udah terbiasa sama kontrol yang saya punya sekarang.

Tapi saya juga harus jujur: ada situasi di mana Google tetap lebih baik. Kalau saya butuh hasil pencarian yang personal dan kontekstual, misalnya cari rekomendasi restoran dekat lokasi saya sekarang, Google tetap juaranya. Integrasi ekosistem ini gak bisa digantikan Startpage. Dan AI Overviews-nya Google kadang lebih cepat dari klik link mana pun (meskipun jujur saya kurang suka ini).

Saya udah coba balik ke Google di HP beberapa kali karena penasaran. Dan setiap kali, saya ngerasa: ah, dipersonalisasi lagi hasilnya. Hasil pencarian Google memang lebih bagus, tapi karena personalisasi, hasilnya juga kadang tidak murni 100% kualitasnya. Tapi kalau kamu gak terganggu dengan ini, atau kamu heavy user Google Workspace, Google fine-fine aja.

Dual-system ini cuma “yang cocok buat saya.” Kalau gak cocok untuk kamu, jangan dipaksakan.

Tapi saya punya satu harapan buat Startpage: fitur kayak !bang punya DuckDuckGo. Saya pengen bisa ketik !g [query] buat pencarian dari Google doang, atau !b buat Bing, atau !yt buat YouTube, langsung dari satu kolom pencarian. Startpage keren, tapi navigation-nya masih kurang fleksibel soal ini.

DuckDuckGo sebenernya opsi lain yang pernah saya pertimbangkan. Hasil pencariannya pakai indeks Bing, bukan Google, jadi beda dari Startpage yang proxy ke Google. Tapi, fitur !bang-nya keren, dan Startpage gak punya ini.

Sayangnya, DuckDuckGo diblokir pemerintah Indonesia sejak Agustus 2024, jadi opsi itu gak available buat saya sekarang. Kalau gak diblokir, saya mungkin pakai DuckDuckGo sebagai alternatif utama karena adanya fitur !bang yang bikin saya bisa milih sumber pencarian. Tapi untuk sekarang, kombinasi Startpage + Brave Search ya udah yang paling cocok buat saya.

Selain DuckDuckGo, ada beberapa mesin pencari lain yang perlu diketahui: Mojeek (indeks sendiri, tanpa proxy ke Google, berbasis Inggris), SearXNG (meta-search engine yang bisa self-host, menggabungkan hasil dari berbagai engine), dan Qwant (Eropa, privasi ketat, tanpa personalisasi). Tapi ketersediaannya di Indonesia bervariasi, dan beberapa butuh VPN atau setup teknis.

Kalau Kamu Mau Coba

Saya gak bisa janji ini works buat semua orang. Tapi kalau kamu ngerasa risih sama personalisasi Google yang kebanyakan, atau kalau kamu pengen lebih kontrol atas data kamu, Brave Browser + dual-system ini worth dicoba. Kasih waktu 2-3 minggu buat beneran ngerasain bedanya.

  1. Install Brave browser dari brave.com, ad-blocker bawaan langsung jalan tanpa setup.
  2. Buka Brave browser Settings > Search engine > ganti ke Brave Search sebagai default di HP kamu.
  3. Kalau hasil kurang, terutama kueri brand, berita industri, atau dokumentasi teknis, buka startpage.com dan set sebagai search engine alternatif. Startpage itu proxy ke Google, jadi hasilnya lengkap tapi identitas kamu tetap anonim.

Kalau Startpage terasa lambat, itu trade-off yang harus diterima, atau coba pakai Brave Search dulu, baru Startpage kalau hasilnya kurang.

Dan kalau kamu mau beneran ngerti pola pencarian kamu sendiri, coba logging selama 2 minggu. Catat query, catat engine yang kamu pakai, catat apakah kamu switch. Kamu gak perlu spreadsheet fancy. Yang kamu butuhkan cuma waktu dan kesabaran buat ngeliat polanya.

Siapa Pici?

Saya Pici, dengan nama asli Muhammad Fikri Abdul Zaki. Sudah 10+ tahun di dunia SEO, dan saya meyakini bahwa setiap klik harus berdampak ke bisnis, bukan cuma angka di dashboard.

Temui saya di:
Scroll to Top