
Aktivitas GEO perlu di-handle oleh tim SEO yang sudah evolved, dengan kolaborasi lintas tim. Jawaban ini didasarkan pada survey terhadap 1.346 responden, 6 pakar di bidang SEO dan digital marketing, dan diskusi dari komunitas SEO dan GEO.
Yang dimaksud tim SEO di sini adalah tim yang sudah paham structured data, entity optimization, dan cara LLMs bekerja. Jadi, kampanye SEO tahun 2015 yang sekedar handle keyword research dan meta tags saja gak cukup.
Tapi kenapa pertanyaan ini penting? Karena GEO (Generative Engine Optimization) belum masuk ke org chart manapun dengan bersih. GEO adalah ilmu atau praktik baru yang menentukan apakah suatu brand bisa muncul di percakapan AI atau tidak.
GEO bukan SEO murni, bukan content murni, dan juga bukan PR murni. Jadi saat perusahaan notice AI search itu mengubah cara orang mencari konten, kebanyakan perusahaan gak punya “posisi GEO” di org chart mereka. Yang ada cuma tim SEO yang udah kepepet, tim content yang udah overwhelmed, dan tim PR yang gak ngerti kenapa mereka harus ikut.
Akhirnya, GEO jadi “tugas everyone sekaligus”, yang artinya… jadi tugas nobody secara eksplisit.
Key takeaways
86% praktisi bilang tim SEO yang handle GEO, berdasarkan survei LinkedIn oleh Aleyda Solís terhadap 1.346 responden, jauh mengungguli opsi tim AI Search khusus (10%) atau tim digital marketing lain (3%).
Survei ini menjawab “siapa yang pegang sekarang”, bukan “siapa yang idealnya pegang”, jadi angka 86% bisa jadi cuma nunjukin gak ada opsi lain, bukan bukti SEO paling cocok.
Hampir semua sumber sepakat: jangan bikin tim baru khusus GEO. Cuma 1% responden yang mau tim AI Search tanpa SEO, dan menurut Shiraz, bikin silo baru cuma “recreates the silo it was meant to solve”.
“Tim SEO” yang dimaksud bukan tim SEO 2015, tapi tim yang udah paham structured data, entity optimization, dan cara kerja LLMs. Jadi kalau timmu cuma bisa audit meta tags, itu belum cukup buat handle GEO.
PR sering jadi bottleneck, bukan SEO. Dari pengalaman penulis di 4 klien, sisi teknis dan konten lancar di tangan tim SEO, tapi brand mentions dan third-party citations butuh relationship media yang gak dipunyai tim SEO.
Kenapa Pertanyaan Ini Muncul?
GEO itu baru. Beneran baru. Kalau SEO udah punya 25+ tahun sejarah, GEO baru lahir sekitar 2023-2024 seiring ChatGPT, Perplexity, dan AI Overview Google muncul.
Masalahnya, budget dan headcount di perusahaan itu gak secepat teknologi. Org chart butuh waktu bertahun-tahun buat nyesuaiin diri sama fungsi baru, sementara AI search udah keburu jadi kebiasaan jutaan orang.
Hasilnya ya kayak yang udah disebut di atas: GEO numpang di tim yang udah ada, tanpa ada yang secara resmi pegang tanggung jawab. Dan ketika kamu gak punya orang yang explicitly responsible, kamu gak punya yang bisa diukur hasilnya.
Ini bukan masalah kecil. Kalau AI search engine makin banyak dipakai dan brand kamu gak muncul di jawaban mereka, kamu kehilangan channel discovery yang makin kritis. Dan siapapun yang “handle” GEO di perusahaan kamu, mereka yang menentukan apakah brand kamu ada di percakapan AI atau tidak.
Apa yang Saya Lakukan untuk Menjawab Pertanyaan Ini?
Untuk menjawab “siapa yang harusnya handle GEO,” saya ngumpulin data dari lima sumber:
- Survei LinkedIn (1.346 responden). Polling publik dari Aleyda Solís dengan 4 opsi tetap. Sampelnya gede banget, tapi ya namanya polling publik di LinkedIn, yang jawab kebanyakan emang udah praktisi SEO/GEO, jadi hasilnya agak bias ke arah situ.
- Pernyataan 6 ahli. Kutipan dari postingan publik Lily Ray, Steve Toth, Kristina Azarenko, Toan Justin, Shiraz, dan Nick LeRoy di LinkedIn dan X. Bukan data kuantitatif, tapi analisisnya dalem karena mereka emang yang kerja di lapangan tiap hari.
- Diskusi komunitas (Reddit dan X). Sekitar 5 posting dengan total 171 komentar, dipantau dari r/seogrowth, r/LLMTraffic, dan thread yang dibuat Lily Ray sama Aleyda Solís. Diskusinya enak karena orangnya ngomong apa adanya tanpa agenda, cuma ya jadi agak condong ke yang lebih vokal dan teknikal.
- Survei komunitas SEO Indonesia. 16 responden dari grup privat, pertanyaan bebas tanpa opsi yang saya kategorikan sendiri. Sampelnya kecil banget, jauh dari representatif, tapi setidaknya ada gambaran gimana situasinya di sini.
- Pengalaman langsung. Observasi dari 4 klien yang saya pegang di Q1-Q2 2026. Paling deket sama lapangan, tapi ya cuma dari industri yang beda-beda, semua di Indonesia, dan skalanya kecil-menengah.
Satu sumber aja gak cukup buat jawab ini. Tapi kalau ditumpuk semua, mulai kebayang jawabannya kayak gimana.
Apa Kata Data? Temuan Survei
Datanya bilang: 86% praktisi nunjuk tim SEO buat handle GEO, jauh di atas opsi lain. Ini hasil polling publik dari Aleyda Solís, seorang international SEO & AI Search consultant, dengan pertanyaan “Who’s in charge of AI Search Optimization (GEO, AEO, LLMO, etc.) in the company you work at / with?” ke komunitas SEO/GEO di LinkedIn, Juni 2026.
Survei LinkedIn Aleyda Solís
n = 1.346 responden · Juni 2026
Total responden: 1.346 orang. Angka ini bukan sampel acak dari populasi umum, tapi survei dari orang yang secara aktif terlibat di dunia SEO dan AI search. Artinya, hasilnya lebih mencerminkan sentiment praktisi daripada sentiment general market.
Headline Stat
Rinciannya lengkap dari 1.346 responden:
| Siapa yang handle GEO | Persentase |
|---|---|
| Tim SEO | 86% |
| Tim AI Search yang ada SEO-nya | 10% |
| Tim AI Search tanpa SEO | 1% |
| Tim digital marketing lainnya | 3% |
86% menang telak. Tapi jangan keburu senang dulu kalau kamu SEO. Angka ini gak bercerita secara utuh.
Apa yang Angka Ini Sebenarnya Bilang?
Angka 86% menyembunyikan beberapa temuan kunci.
Hanya 10% responden yang bilang GEO di-handle oleh tim tersendiri. Dan dari 10% itu, cuma 1% yang mau tim AI Search tanpa SEO. Artinya, hampir semua orang gak mau bikin silo baru. Mereka mau GEO jadi bagian dari struktur yang udah ada, bukan entity baru.
Yang menariknya, 86% responden yang bilang GEO di-handle oleh “tim SEO”. Kalau kita berasumsi masing-masing responden handle 1 perusahaan, setidaknya ada 1.157 perusahaan yang mendelegasikan kampanye GEO ke tim SEO mereka.
Tapi, “tim SEO” yang dimaksud ini punya definisi berbeda di era AI. Berdasarkan diskusi komentar di post yang sama, tim SEO yang dimaksud adalah tim SEO yang sudah evolved jadi “tim organic discovery” dan paham structured data, entity optimization, serta cara LLMs bekerja?
Angka 3% untuk “tim digital marketing lain” itu kecil tapi signifikan. Ini menunjukkan ada sebagian kecil yang melihat GEO sebagai domain di luar SEO, content, atau PR. Mungkin growth team, mungkin product marketing, mungkin data team.
Yang gak ditangkap survei: Survei ini tanya “siapa yang handle sekarang,” bukan “siapa yang idealnya handle.” Bisa jadi tim SEO handle karena gak ada opsi lain, bukan karena mereka paling cocok.
Ini bedanya penting. Sepanjang tulisan ini, angka 86% saya perlakukan sebagai data soal siapa yang saat ini pegang, bukan bukti soal siapa yang seharusnya pegang. Dua hal itu saya pisahin jelas nanti di bagian rekomendasi.
Apa Kata Para Ahli?
Dari 6 pakar yang saya kutip, 3 bilang tim SEO yang pegang (dengan syarat udah evolved), 1 bilang siapapun yang udah pegang organic discovery, 1 bilang ini harusnya jadi fungsi content-ops, 1 orang ambil jalan tengah dan gak peduli soal nama tim asal skillnya pas.
5 di antaranya saya kutip langsung di bawah; pandangan Nick LeRoy saya rangkum di bagian sintesis nanti karena saya cuma pegang ringkasannya, bukan kutipan langsung. Semua dari postingan publik mereka di LinkedIn dan X.
Lily Ray (Founder, Algorythmic; VP SEO & AI Search di Amsive)
Lily salah satu suara paling vokal di SEO sekarang, terutama soal technical SEO dan gimana search engine berubah di era AI. Jawabannya cukup tegas: tim SEO yang pegang, tapi kolaborasi lintas tim tetap wajib.
“Yep for all my clients it’s the SEO team, but of course bringing in social and PR to collaborate.”
Di X, Lily lebih blak-blakan soal siapa yang megang GEO:
“Imagine teaching PR and branding teams to manage tracking prompts, fan-out queries, rendering issues, robots.txt, website performance, WebMCP etc. Of course other folks need to be involved for AI search to be successful; it’s a cross-channel/brand effort. But yeah… AI search is search and SEO teams who have been paying attention to how search has evolved over the last 20+ years are best equipped to manage AI search.”
Intinya, Liliy berpendapat bahwa prinsip dasar SEO (technical foundation, structured data, entity clarity) tetap jadi fondasi GEO. SEO tim yang punya skill teknis ini. PR dan social boleh ikut kolaborasi, tapi bukan yang jadi leader
Steve Toth (CEO / Chief Strategy Officer, Notebook Agency)
Steve punya pandangan yang mirip dengan Lily, tapi lebih tegas soal ketergantungan GEO terhadap SEO expertise.
“AEO doesn’t come without SEO expertise period. Imho SEO should be at the center making sense of it cross-functional and also the team that decides how to measure it.”
Steve menyebutkan kalau GEO itu gak bisa dipisah dari fungsi SEO. Dia juga menambahkan kalau tim SEO lah yang berhak nentuin metrik kampanye GEO.
Muhammad Shiraz Shafqat (Head of SEO, AVEA)
Shiraz ngasih jawaban paling nggak lazim. Dia gak langsung nunjuk “tim SEO”, tapi malah bilang siapapun yang udah pegang organic discovery.
“The honest answer in most teams is that nobody owns it yet, and that gap is the real story. AEO sits between SEO, content, and PR, so it slips through the cracks unless someone claims it. In my experience it belongs with whoever already owns organic discovery, because the mechanics rhyme, structured content, entity clarity, and becoming the source LLMs actually cite. Spinning up a separate ‘AI search’ role usually just recreates the silo it was meant to solve.”
Bagi Shiraz, GEO itu masalah ownership, bukan masalah skill. Bikin tim baru khusus “AI search” justru cuma nambah silo baru yang justru perlu dihindari. Yang ngurus GEO itu siapapun udah punya organic discovery, entah itu tim SEO, tim content, atau hybrid.
Kristina Tkachova (Sales Manager, WebCoreLab)
Kristina ngasih perspektif dari sisi agency yang handle klien. Di agency tempat dia kerja, yang handle GEO itu tim SEO yang udah upgrade skills.
“At WebCoreLab, it’s the SEO team, but we had to evolve fast. GEO/AEO is now a core part of every technical audit we run. The biggest shift we see: clients who ignored structured data and E-E-A-T signals are simply invisible in AI-generated answers. It’s not a separate discipline anymore, it’s just modern SEO.”
Kristina ini gak nganggep GEO sebagai disiplin terpisah dari SEO sama sekali. Buat dia, ini cuma versi lanjutan dari SEO yang udah ada.
Toan Justin (Senior Social Media Content Specialist & Content Analyst, Icons of Real Estate)
Toan adalah satu-satunya yang punya pandangan paling berbeda dari mayoritas. Dia gak bilang tim SEO, dia bilang GEO ini untuk “content-ops function.”
“Honest answer from the agency/ops side: right now nobody owns it, and that’s the actual problem. SEO teams treat it as ‘SEO but for LLMs,’ content teams treat it as someone else’s job, and PR/comms don’t realize it’s partly theirs. It lands on whoever’s most curious, not whoever’s most responsible. My bet: it ends up a content-ops function, because making yourself quotable to a model is a structuring-and-tagging problem, not a keyword one.”
Argumennya emang masuk akal. Kalau intinya bikin brand kamu “quotable” buat model AI, itu soal struktur dan tagging konten, bukan soal keyword lagi. Ini kalau kita hanya berbicara dari segi “konten” saja ya.
Ringkasan Pendapat Para Ahli
| Ahli | Siapa yang handle? | Kunci pandangan |
|---|---|---|
| Lily Ray | SEO team, dengan kolaborasi | Technical SEO tetap fondasi |
| Steve Toth | SEO team di pusat | SEO yang nentuin cara ukur |
| Muhammad Shiraz | Siapapun yang udah pegang organic discovery | Jangan bikin silo baru |
| Kristina Tkachova | Tim SEO yang udah evolved | GEO ya modern SEO |
| Toan Justin | Fungsi content-ops | Soal struktur konten, bukan keyword |
| Nick LeRoy | Gak peduli siapa, asal skillnya pas | Jalan tengah, fokus di skill bukan label tim |
Semua sepakat soal satu hal, yaitu kolaborasi lintas tim gak bisa dihindari. Bedanya cuma di satu titik: apakah SEO itu emang pusatnya (kata Lily, Steve, Kristina), atau ini sebenernya soal struktur konten yang bisa aja dipegang tim lain (kata Toan).
Apa Kata Komunitas?
Selain survei dan ahli, saya juga memantau diskusi di Reddit dan X (5 posting, 171 komentar total). Dari situ keliatan ada dua kamp utama soal siapa yang handle GEO, plus satu kelompok kecil yang bilang “gak ada yang handle.”
Diskusi Komunitas Reddit & X
37 diskusi unik dari 5 posting · 171 komentar total
Kamp 1: SEO Team yang Handle, karena GEO Itu SEO yang Evolved
Ini kamp terbesar. Mereka beragumen Kalau kamu udah punya skill SEO yang solid, kamu udah punya fondasi buat GEO juga. GEO dianggap extension dari SEO, jadi wajar aja kalau tim SEO yang pegang.
Di r/seogrowth, r/LLMTraffic, sampai X, banyak yang ngomong hal senada. SEO yang bagus otomatis menghasilkan GEO yang bagus. Beberapa bahkan bilang sebagian besar “GEO agencies” sebenernya cuma ngelakuin SEO reguler dengan konten yang lebih fokus ke jawaban, terus rebranding ke GEO doang
Dari 37 diskusi unik di Reddit dan X yang ngebahas soal ownership, sekitar 57% (21 dari 37 diskusi) condong ke kamp ini. Mayoritas, tapi bukan supermajority.
Kamp 2: SEO Aja Gak Cukup, Butuh Role Baru
Kamp ini gak sebesar kamp pertama, tapi lebih vokal soal detail. Mereka gak bilang “hapus SEO”. Yang mereka bilang lebih ke “SEO aja gak cukup buat handle GEO.”
Salah satu analisis paling detail di r/seogrowth nunjukin bahwa meskipun ada overlap 70% antara SEO dan GEO, tujuannya tetap beda. SEO optimize buat ranking, sementara GEO optimize buat citation. SEO ngincer rank #1 di Google, GEO ngincer citation di jawaban ChatGPT. Dua hal yang keliatan mirip tapi ujungnya beda.
Sekitar 19% (7 dari 37 diskusi) masuk kamp ini. Lebih kecil dari kamp pertama, tapi analisisnya lebih dalam.
Yang Gak Masuk Kamp Manapun
Sekitar 8% (3 dari 37 diskusi) gak ngomongin siapa yang harusnya handle. Mereka malah ngomongin kenyataan bahwa di banyak perusahaan sekarang, gak ada yang handle secara eksplisit. GEO jadi domain nobody, dan artinya gak ada yang bisa diukur hasilnya.
Nataliya Brovkina di X nangkep fenomena ini dengan tepat. Di perusahaan kecil, jawabannya sering “nobody”, bukan karena terlalu kecil buat di-hire orang khusus, tapi juga bukan hal yang bisa diabaikan gitu aja. GEO akhirnya duduk di antara SEO person dan content person, sampai kompetitor duluan yang muncul di jawaban AI. Buat dia, ownership jauh lebih penting daripada sekadar nama role.
Ketiga kamp ini nyakup 31 dari 37 diskusi (84%). Sisa 6 diskusi (16%) sifatnya campuran atau gak cukup jelas arahnya buat dimasukkin ke salah satu kamp, jadi saya gak paksain kategorisasinya.
Temuan Menarik dari Komunitas
Ada hal menarik dari diskusi Reddit dan X: mayoritas (57%) otomatis mengasumsikan tim SEO yang handle. Mereka berpendapat seperti ini karena mereka ngeliat GEO sebagai extension dari SEO aja. Cuma sebagian kecil yang beneran ngebahas secara eksplisit “siapa yang harusnya handle” sebagai pertanyaan tersendiri.
Artinya, banyak dari angka 86% di survei LinkedIn mungkin juga punya asumsi yang sama. GEO dianggap sama dengan SEO, jadi ya SEO yang handle. Padahal pertanyaannya bukan “apa”, tapi “siapa”, dan komunitas online sendiri belum banyak ngebahas soal “siapa” ini secara mendalam.
Perdebatan Lain: SEO atau PR yang Mimpin GEO Campaign?
Belum ada jawaban final, tapi James Crawford dan Wil Reynolds di X sama-sama bilang PR gak cuma soal kolaborasi, ada domain expertise (reputation, media signals, endorsement) yang gak bisa digantiin SEO. Ini diskusi yang gak muncul di Reddit: apakah PR harus ikut memimpin, bukan cuma sekadar kolaborasi.
James Crawford di X mempertanyakan apakah tim SEO bisa ngajarin PR soal brand reputation. Menurutnya ini bukan sekadar digital PR yang bisa ditempelkan template begitu aja. AI answers gak cuma dibentuk oleh technical SEO, tapi juga oleh reputation, authority, endorsement, para expert, media signals, sampai rekomendasi customer, dan segala hal yang WWW katakan soal brand. Semua itu domainnya PR.
Wil Reynolds di X juga sepakat kalau ada gap nyata di kedua sisi. PR punya gapnya sendiri, SEO juga punya gapnya sendiri. Pertanyaannya jadi tim mana yang mau kamu bet, dan berdasarkan apa keputusan itu.
Pandangan ini kontras sama mayoritas yang bilang tim SEO. Tapi bukan berarti PR harus handle sendirian. Lebih ke arah PR punya domain expertise yang gak bisa diabaikan begitu aja, terutama soal brand mentions, third-party citations, dan reputation signals yang dipakai AI buat nyusun jawabannya.
Pengalaman Saya
Di 4 klien yang saya pegang (semua di Indonesia, skala kecil-menengah, jadi bukan generalisasi kuantitatif), GEO didelegasikan sepenuhnya ke tim SEO.Akhirnya, technical dan content side jalan lancar, tapi PR yang jadi bottleneck.
Di keempatnya, gak ada tim content khusus buat GEO, gak ada tim PR yang dedicated buat AI search. Tim SEO yang urus technical side, content structure, sekaligus outreach.
Hasilnya gimana? Technical dan content side jalan lancar. Structured data, schema markup, content structure yang LLM-friendly, semua itu ditangani tim SEO tanpa masalah besar. Mereka emang udah punya fondasi dari SEO tradisional, tinggal nambah layer GEO di atasnya.
Tapi PR? Nah, ini yang sulit.
Brand mentions dan third-party citations itu penting banget buat GEO, tapi tim SEO gak punya relationship sama media atau journalist. Mereka emang udah terbiasa link building, jadi outreach bukan hal asing buat mereka. Cuma link building sama PR outreach itu beda dunia. Link building targetnya backlink, sementara PR targetnya brand mention di publication yang otoritatif. Skillnya mirip, tapi network-nya beda jauh.
Dan ini mungkin jadi pengalaman yang sama di banyak perusahaan kecil-menengah di Indonesia. Tim SEO handle semuanya bukan karena mereka paling cocok, tapi karena emang gak ada opsi lain.
Survei Komunitas SEO Indonesia
Saya juga ngajuin pertanyaan yang sama ke komunitas SEO Indonesia lewat grup privat. Total 16 responden, dan hasilnya begini:
| Siapa yang handle GEO | Jawaban | Persentase |
|---|---|---|
| Tim SEO | 8 | 50% |
| Tim SEO + kolaborasi marketing/PR | 4 | 25% |
| Gak ada ownership GEO | 4 | 25% |
Kalau digabung, 75% bilang SEO jadi pusat, entah sendirian atau lewat kolaborasi. Tapi 25% sisanya bilang gak ada ownership sama sekali, dan angka ini cukup signifikan buat diperhatiin.
Ada satu catatan penting soal metode di sini. Survei internasional dari Aleyda Solís itu polling dengan 4 opsi tetap (Tim SEO, Tim AI Search + SEO, Tim AI Search tanpa SEO, Tim digital marketing lainnya). Survei Indonesia beda, sifatnya free-to-answer tanpa opsi yang disediain. Tiga kategori di atas (Tim SEO, Tim SEO + kolaborasi, Gak ada ownership) itu kesimpulan saya sendiri berdasarkan jawaban para responden.
Karena beda metode kayak gini, perbandingan langsung antara keduanya jadi terbatas.
Nah, berbeda dengan polling internasional, survei Indonesia nunjukin ada responden yang secara eksplisit bilang “gak ada ownership”, kategori yang bahkan gak tersedia di polling internasional. Ini bisa aja ngindikasiin kalau masalah ownership lebih keliatan di Indonesia. Tapi sekali lagi, perbandingan langsungnya tetap terbatas karena beda metode survei.
Kesepakatan dan Perbedaan dari Kelima Sumber
Apa yang Kelima Sumber Sepakati?
Kolaborasi lintas tim itu wajib
Survei bilang 86% SEO team yang handle GEO. Tapi gak ada satupun yang bilang SEO bisa jalan sendirian tanpa content atau PR. Para ahli semuanya nyebut kata “kolaborasi lintas tim.” Komunitas juga bilang hal serupa, SEO jadi fondasi, tapi tetap butuh konten yang terstruktur.
Di lapangan sendiri, yang saya lihat sama. SEO handle GEO, tapi PR sering jadi bottleneck-nya.
Bikin tim baru bukan solusi
Cuma 10% responden survei yang mau tim AI Search dengan SEO, dan cuma 1% yang mau tanpa SEO sama sekali. Shiraz bilang bikin role “AI search” terpisah biasanya cuma “recreates the silo it was meant to solve.” Komunitas internasional juga gak ada yang serius advokasi buat tim baru. Komunitas Indonesia malah gak ada satupun yang jawab “tim AI Search” sebagai opsi.
Di semua klien saya, delegasi ke tim SEO tetap jalan buat sisi teknisnya. Artinya, ini jelas lebih ke pendekatan evolusi, bukan revolusi.
GEO gak bisa dipisah dari SEO
Survei nunjukin 86% GEO diurus oleh SEO team. Lily, Steve, Kristina, sampai Shiraz sama-sama bilang SEO jadi fondasinya. Di komunitas internasional, kamp pertama (57%) bilang SEO yang bagus otomatis GEO yang bagus. Komunitas Indonesia malah lebih tinggi lagi, 75% bilang SEO jadi pusat (50% sendirian, 25% dengan kolaborasi).
Sebelum angka-angka ini kelihatan seperti tiga bukti yang saling menguatkan, satu hal perlu digarisbawahi: ketiganya bukan konfirmasi independen. Populasi ketiganya sama-sama praktisi yang udah kerja atau aware soal SEO/GEO, ditanya pertanyaan yang secara alami menguntungkan peran mereka sendiri. Tiga angka yang sepakat dari populasi yang sama-sama bias ke arah yang sama itu bukan triangulasi, itu bias yang sama muncul tiga kali.
Dari 4 klien yang saya pegang, semuanya delegasi GEO ke tim SEO. Dan memang, fondasi SEO tradisional jadi basis yang kuat.
Tapi ada satu hal yang penting digarisbawahi di sini. “SEO” yang dimaksud udah bukan SEO lama, tapi SEO yang udah nyerap skill GEO, structured data, entity optimization, sampai paham cara kerja LLMs.
Kalau definisi “SEO” ditarik terlalu luas sampai mencakup semua yang dibutuhkan GEO, kesimpulan “SEO harus handle GEO” jadi muter-muter doang alias tautologi.
Pertanyaan yang lebih pas justru, apakah tim SEO yang ada sekarang udah punya skill ini, atau masih butuh skill tambahan?
Apa yang Kelima Sumber Tidak Sepakati?
Apakah “tim SEO” aja udah cukup?
Survei bilang ya, 86%. Tapi ahli, komunitas, dan pengalaman saya sendiri bilang kalau ini tidak sesimpel itu.
Lily Ray emang bilang “SEO team,” tapi maksudnya tim yang paham technical SEO selama 20 tahun lebih. Toan Justin malah nyebut “content-ops function.” Shiraz bilang siapapun yang udah pegang organic discovery. Salah satu user di Reddit juga nunjukin bahwa ranking nomor satu gak otomatis berarti dapet citation, yang artinya SEO tradisional aja udah gak cukup.
Sementara di komunitas Indonesia, 25% bilang gak ada ownership sama sekali. Ini justru bikin masalah ini keliatan lebih jelas di konteks lokal.
Survei kasih angka yang bersih, 86%. Tapi kenyataan di lapangan jauh lebih ribet dari itu.
Apakah GEO ini disiplin baru atau cuma evolusi dari yang lama?
Gak ada jawaban tunggal, dan ini titik perbedaan paling besar dari semua sumber: kubu evolusi bilang GEO dibangun di atas fondasi SEO, kubu disiplin baru bilang GEO butuh mindset yang beda sama sekali.
Kubu evolusi isinya Lily, Steve, Kristina, sampai beberapa user Reddit kayak Sap323 dan SakshamBaranwal. Mereka sepakat GEO itu SEO yang berkembang, bukan disiplin yang lahir dari nol.
Kubu disiplin baru diwakili Toan Justin dan Siddharth1India. Mereka bilang GEO butuh mindset yang beda sama sekali, optimasi buat dikutip, bukan buat ranking.
Ada juga jalan tengah dari Shiraz dan Nick LeRoy. Mereka gak terlalu peduli soal label evolusi atau baru, yang penting siapapun yang pegang punya skill yang pas.
Saya sendiri lebih condong ke kubu evolusi. Tim SEO cuma perlu nambah layer baru di atas fondasi yang udah ada. Jadi, orang yang bekerja sebagai SEO person hanya perlu belajar skill baru, bukan bikin disiplin dari nol.
Sedangkan untuk survei di Indonesia gak nangkep perbedaan ini karena pertanyaannya cuma soal “siapa yang handle,” bukan “apakah ini disiplin baru.”
Siapa yang paling vokal soal ini?
Komunitas online condong ke kamp SEO, sekitar 57%. Tapi ini bukan representasi dari semua praktisi. Banyak praktisi SEO yang gak aktif di Reddit atau X, dan bisa aja mereka punya pandangan yang beda.
Survei LinkedIn dengan 1.346 responden jauh lebih representatif dibanding diskusi Reddit yang cuma beberapa lusin posting.
Limitasi Data
Kelima sumber di atas berat ke arah praktisi yang udah aware dan peduli soal GEO, praktisi yang belum mikirin AI search optimization sama sekali gak terwakili di sini. Rincian keterbatasan tiap sumber:
- Survei LinkedIn dengan 1.346 responden populasinya adalah praktisi SEO/GEO yang aktif di LinkedIn, bukan sampel acak dari seluruh praktisi digital marketing. Orang yang peduli sama AI search optimization lebih mungkin buat vote. Jadi hasilnya bisa aja bias ke arah “SEO team handle” karena mayoritas respondennya emang udah praktisi SEO dari awal.
- Diskusi Reddit dan X (5 posting, 171 komentar, 37 diskusi unik soal ownership) sifatnya self-selected. Orang yang diskusi di Reddit atau X bukan representasi dari seluruh populasi praktisi. Komunitas online biasanya lebih vokal serta lebih teknikal dibanding rata-rata. Proporsi kamp yang saya sebut di atas berdasarkan 37 diskusi unik itu, bukan hasil hitungan statistik yang ketat.
- Survei komunitas Indonesia cuma 16 responden. Sampelnya kecil banget, sifatnya eksploratif aja.
- Pengalaman pribadi dari 4 klien juga cuma observasi lapangan, bukan studi terkontrol. Semua klien beda industri, tapi semuanya berlokasi di Indonesia dan skalanya kecil sampai menengah. Gak ada generalisasi kuantitatif yang bisa ditarik dari sini.
(Detail per-sumber seperti URL dan tanggal ada di Lampiran Metodologi di bawah, saya gak ulang lagi di sana.)
Kesimpulannya Gimana?
Kelima sumber sebenernya bilang hal yang mirip, cuma dengan nada yang beda-beda.
Survei bilang SEO team yang handle, tapi gak jelasin caranya gimana. Para ahli bilang SEO team yang handle, tapi SEO-nya harus udah berkembang, dengan nuansa yang beda tiap orang. Komunitas bilang SEO yang bagus berarti GEO yang bagus, tapi GEO juga punya taktik barunya sendiri, dengan spektrum pendapat yang cukup lebar.
Dari pengalaman saya sendiri, delegasi ke tim SEO memang jalan buat sisi teknis. Tapi PR yang sering jadi bottleneck-nya.
Kalau harus ditarik satu kesimpulan yang paling mendekati kenyataan: GEO dihandle oleh tim SEO yang udah berkembang, dengan kolaborasi dari content dan PR, tanpa perlu bikin silo baru.
Tapi definisi “SEO yang udah berkembang” itu sendiri masih terus berproses. Belum benar-benar selesai dirumuskan.
Rekomendasi Saya
Rekomendasi saya: pegang GEO di tim yang udah paham structured data, entity optimization, dan cara kerja LLM, alias tim SEO yang evolved, tapi dengan beberapa syarat.
Ini opini, bukan fakta: berdasarkan data, kutipan publik ahli, diskusi komunitas, dan pengalaman langsung saya, bukan turunan langsung dari angka 86% survei (yang, seperti disebut di atas, cuma jawab “siapa yang pegang sekarang,” bukan “siapa yang idealnya pegang”).
Jawaban singkat: Tim SEO yang handle, tapi dengan syarat.
Syaratnya bukan kecil:
1. Tim SEO harus evolved.
SEO 2015 (keyword research, meta tags, backlink building) gak cukup untuk GEO. Tim SEO yang handle GEO harus paham:
- Structured data dan schema markup
- Entity optimization dan Knowledge Graph
- Cara LLMs bekerja (training data, retrieval, citation)
- E-E-A-T harus jadi praktik, bukan sekadar konsep
- Content structure yang LLM-friendly (jawaban self-contained, tables, bullets)
Kalau tim SEO kamu cuma bisa audit meta tags dan bikin keyword map, mereka belum siap handle GEO. Ukuran yang saya pakai di sini sengaja soal skill konkret, supaya rekomendasi ini gak muter-muter jadi “SEO yang bisa GEO harus SEO.”
2. Content team harus involved, tapi bukan owner.
Content team paham soal voice, messaging, dan editorial quality. Tapi mereka gak paham technical side: structured data, robots.txt, rendering, WebMCP, atau cara LLMs mengindex konten. Content team bisa jadi kolaborator kuat, tapi bukan yang duduk di kursi kemudi.
3. PR/comms harus aware, tapi bukan driver.
PR paham soal brand mentions, media coverage, dan third-party validation. Ini semua penting untuk GEO karena LLMs validate brand across web, bukan cuma di website sendiri. Tapi PR gak handle technical implementation. Mereka awareness-nya penting, tapi bukan yang execute.
4. Jangan bikin tim baru.
Data survei (hanya 10% yang mau tim baru), ahli (Shiraz: “recreates the silo”), dan komunitas (gak ada advocate serius), semuanya bilang hal yang sama: bikin tim baru itu overhead tanpa jaminan hasil. Evolutionary approach lebih efektif.
Jawaban panjang: Framework “Who Owns What in GEO”
| Area | Owner | Collaborator |
|---|---|---|
| Technical SEO untuk GEO (structured data, schema, entity) | Tim SEO | Dev team |
| Content structure untuk LLM citation | Tim SEO + Content | Tim PR (untuk brand narrative) |
| Monitoring & measurement (AI search visibility) | Tim SEO | Data/analytics team |
| Brand mentions & third-party citations | Tim PR | Tim SEO (feedback loop) |
| Content creation untuk GEO-optimized pages | Tim Content | Tim SEO (guidance) |
| Tool & infrastructure (crawling, indexing untuk AI) | Tim SEO + Dev | – |
Framework ini mendistribusikan responsibility ke struktur yang udah ada.
Apakah Ini Berlaku untuk Semua Perusahaan?
Tidak. Ini rekomendasi berdasarkan konteks industri SEO dan digital marketing. Perusahaan dengan tim kecil (1-3 orang) mungkin gak bisa afford untuk “distribute” responsibility, mereka butuh satu orang yang handle semuanya. Perusahaan besar dengan tim 10+ orang mungkin bisa lebih granular.
Yang pasti: pertanyaan “siapa yang handle GEO” harus kamu jawab di perusahaan kamu sekarang, bukan nanti. Karena kalau gak ada yang explicitly responsible, brand kamu bisa hilang dari percakapan AI, dan kamu gak punya yang bisa kamu tanya kenapa.
Lampiran Metodologi
Survei LinkedIn
- Sumber: LinkedIn poll oleh Aleyda Solís
- URL: https://www.linkedin.com/posts/aleyda_with-so-many-still-debating-how-ai-search-ugcPost-7477383461851361280-LdwA/
- Total responden: 1.346
- Populasi: Praktisi SEO/GEO di LinkedIn (bukan sampel random dari populasi umum)
- Kapan: Juni 2026
- Pertanyaan: “Who’s in charge of AI Search Optimization (GEO, AEO, LLMO, etc.) in the company you work at / with?”
- Opsi jawaban: Tim SEO (86%), Tim AI Search dengan SEO (10%), Tim AI Search tanpa SEO (1%), Tim digital marketing lainnya (3%)
- Keterbatasan: Polling LinkedIn berat ke praktisi SEO yang aktif di platform. Responden yang gak aktif di LinkedIn atau bukan SEO practitioner tidak terwakili. Pertanyaan “siapa yang handle” berbeda dari “siapa yang idealnya handle.”
Ahli yang Dikutip
| Nama | Judul | Alasan Dipilih |
|---|---|---|
| Lily Ray | Founder, Algorythmic | VP, SEO & AI Search, Amsive | Salah satu suara paling berpengaruh di technical SEO dan AI search. |
| Steve Toth | CEO/CSO, Notebook Agency | Perspektif dari sisi agency strategy. |
| Muhammad Shiraz Shafqat | Head of SEO, AVEA | Perspektif nuanced tentang ownership dan silo. |
| Kristina Tkachova | Sales Manager, WebCoreLab | Perspektif dari agency yang handle klien. |
| Toan Justin | Sr Social Media Content Specialist, Icons of Real Estate | Perspektif content-ops yang berbeda dari mayoritas SEO. |
| Nick LeRoy | SEO & AI Strategy | Perspektif tentang tim composition yang efektif. |
Seleksi Diskusi Komunitas
Reddit dan X dipilih berdasarkan:
- Relevansi dengan keyword “GEO,” “AI search optimization,” “who owns GEO”
- Volume diskusi dan engagement (karma/upvotes, replies)
- Kualitas argumen (bukan cuma opini tanpa dasar)
- Representasi dari berbagai sudut pandang
Thread yang diambil:
- r/seogrowth (https://www.reddit.com/r/seogrowth/comments/1ueosr5/how_different_is_seo_vs_geo_generative_engine/)
- r/LLMTraffic (https://www.reddit.com/r/LLMTraffic/comments/1t44tn7/which_geo_marketing_agencies_are_actually_worth/)
- X: Lily Ray (https://x.com/lilyraynyc/status/2072956245179257077)
- X: Aleyda Solís (https://x.com/aleyda/status/2072755132647842099)
Keterbatasan seleksi: Diskusi di Reddit dan X tidak representatif dari seluruh populasi praktisi. Online community cenderung lebih vokal dan lebih teknikal dibandingkan rata-rata practitioner. Proporsi “kamp” diestimasi berdasarkan 37 diskusi unik dari Reddit dan X yang membahas soal ownership (dari total komentar di 5 posting), bukan penghitungan statistik yang ketat.
Pengalaman Penulis
Pengalaman langsung ditulis berdasarkan pengalaman kerja dengan 4 klien SEO di Indonesia (Q1-Q2 2026). Di keempat klien, AI Search/GEO didelegasikan sepenuhnya ke tim SEO. Detail spesifik perusahaan tidak disebutkan untuk menjaga kerahasiaan klien. Observasi tentang kesulitan PR outreach didasarkan pada pengalaman praktis, bukan benchmark.
Komunitas SEO Indonesia
- Platform: Grup privat (tidak disebutkan namanya untuk menjaga kerahasiaan anggota)
- Total responden: 16
- Pertanyaan: Siapa yang handle GEO/AI Search Optimization di perusahaan kamu?
- Opsi jawaban: Free-to-Answer (Eksploratif)
- Kapan: Juli 2026
- Keterbatasan: Sampel kecil (n=16), bukan representasi seluruh praktisi SEO Indonesia. Grup privat cenderung berisi practitioner yang aktif dan engaged. Hasil lebih sebagai pelengkap data internasional, bukan standalone proof.
Limitasi Data
Lihat bagian Limitasi Data di “Kesepakatan dan Perbedaan dari Kelima Sumber” di atas untuk detail keterbatasan tiap sumber. Ringkasannya: LinkedIn poll bias ke praktisi SEO yang aktif di platform, diskusi Reddit/X self-selected dan condong ke suara yang lebih vokal, survei Indonesia (n=16) dan pengalaman personal (4 klien) sifatnya eksploratif, bukan bukti kuantitatif berdiri sendiri.
Siapa Pici?
Saya Pici, dengan nama asli Muhammad Fikri Abdul Zaki. Sudah 10+ tahun di dunia SEO, dan saya meyakini bahwa setiap klik harus berdampak ke bisnis, bukan cuma angka di dashboard.
