Banyak Orang Terlihat Sibuk Karena Takut Terlihat Tidak Berguna

Beberapa waktu lalu saya duduk di sebuah kafe sambil membuka laptop. Tidak benar-benar bekerja, hanya membaca beberapa catatan dan sesekali melihat orang di sekitar.

Di meja sebelah, seseorang terlihat sangat sibuk.

Laptop terbuka.
Ponsel di sampingnya.
Sesekali ia mengetik cepat, lalu berhenti.
Kemudian membuka tab lain.
Lalu melihat ponsel.
Kemudian kembali mengetik.

Di sudut lain, ada dua orang yang tampaknya sedang meeting. Mereka berbicara serius, sesekali mengangguk, sesekali melihat layar laptop. Di meja yang berbeda, seseorang terlihat berpindah-pindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain.

Jika dilihat sekilas, semua orang tampak sangat produktif.

Semua terlihat sibuk.

Tapi setelah duduk cukup lama di sana, saya mulai memperhatikan sesuatu yang terasa sedikit aneh.

Kesibukan itu kadang terlihat seperti… sebuah pertunjukan.

Budaya yang Mengagungkan Kesibukan

Di banyak tempat, terlihat sibuk hampir selalu dianggap sebagai sesuatu yang baik.

Orang yang sibuk dianggap pekerja keras.
Orang yang sibuk dianggap penting.
Orang yang sibuk dianggap memiliki banyak hal yang sedang berjalan dalam hidupnya.

Sebaliknya, orang yang terlihat santai sering kali dicurigai.

“Kerjaannya apa sih?”
“Dia sebenarnya ngapain?”

Seolah-olah nilai seseorang bisa diukur dari seberapa penuh jadwalnya.

Saya pernah melihat seseorang membuka laptop di kantor, lalu mulai berpindah dari satu tab ke tab lain. Bukan karena semua tab itu benar-benar penting, tapi karena diam terlalu lama di depan layar terasa mencurigakan.

Kadang kita tidak benar-benar bekerja.

Kita hanya terlihat seperti sedang bekerja.

Ketika Kesibukan Menjadi Identitas

Ada kalanya kesibukan bukan lagi sekadar aktivitas.

Ia berubah menjadi identitas.

Ketika seseorang bertanya, “Lagi apa sekarang?”
Jawaban yang terasa paling aman sering kali adalah:

“Lagi sibuk.”

Kalimat itu hampir selalu terdengar baik.

Tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya dilakukan. Tidak perlu menunjukkan hasil. Cukup mengatakan bahwa kita sibuk, dan percakapan biasanya selesai di situ.

“Sibuk” terdengar seperti tanda bahwa kita berguna.

Padahal, jika dipikirkan lagi, sibuk tidak selalu berarti produktif.

Dan produktif tidak selalu berarti sibuk.

Tapi entah bagaimana, dalam banyak situasi, sibuk terasa lebih penting daripada berguna.

Ketakutan yang Jarang Diucapkan

Saya mulai menyadari bahwa di balik banyak kesibukan, ada sesuatu yang lebih sederhana.

Ketakutan.

Bukan takut gagal.

Melainkan takut terlihat tidak berguna.

Di kantor, orang takut terlihat tidak punya pekerjaan.
Di lingkungan sosial, orang takut terlihat tidak memiliki arah.
Di dunia yang bergerak cepat, orang takut terlihat tertinggal.

Kesibukan menjadi semacam pelindung.

Jika kita terlihat sibuk, orang lain tidak akan terlalu banyak bertanya.

Kesibukan memberi kita alasan yang bisa diterima.

Aktivitas yang Mengisi Kekosongan

Hal ini kadang terlihat dalam hal-hal kecil.

Meeting yang sebenarnya tidak terlalu perlu, tapi tetap diadakan.
Email yang bisa selesai dengan satu pesan singkat, tapi berubah menjadi rangkaian panjang.
Pekerjaan kecil yang diperpanjang waktunya agar terlihat seperti proses yang serius.

Bukan karena semua orang berniat berpura-pura.

Sering kali ini terjadi tanpa disadari.

Kita mengisi waktu dengan aktivitas karena diam terasa tidak nyaman.

Diam membuat kita bertanya:
“Apakah saya sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang penting?”

Dan pertanyaan itu tidak selalu menyenangkan.

Orang yang Terlihat Tenang

Menariknya, beberapa orang yang saya temui justru terlihat berbeda.

Mereka tidak selalu tampak sibuk.

Kadang mereka hanya duduk berpikir sebelum mulai bekerja. Kadang mereka menyelesaikan sesuatu dengan cepat lalu berhenti sejenak. Kadang mereka terlihat santai, tapi hasil kerjanya justru jelas.

Mereka tidak merasa perlu terlihat sibuk setiap saat.

Dan mungkin itu karena mereka tidak terlalu khawatir tentang bagaimana mereka terlihat.

Mereka lebih fokus pada apa yang benar-benar perlu dilakukan.

Kalimat yang Terasa Semakin Masuk Akal

Semakin lama memperhatikan hal-hal kecil seperti ini, ada satu kalimat yang terasa semakin masuk akal bagi saya:

Banyak orang tidak sibuk karena pekerjaannya banyak.
Mereka sibuk karena terlihat sibuk terasa lebih aman.

Kesibukan memberi kita semacam perlindungan sosial.

Ia membuat kita terlihat relevan.
Ia membuat kita terlihat bergerak.
Ia membuat kita terlihat memiliki peran.

Padahal kadang, yang sebenarnya kita lakukan hanyalah menghindari perasaan tidak berguna.

Penutup Versi 1 — Refleksi Terbuka

Sejak menyadari hal ini, saya mulai memperhatikan cara orang bekerja di sekitar saya.

Laptop terbuka.
Tab banyak.
Meeting berjalan.
Notifikasi datang terus-menerus.

Semua terlihat sibuk.

Tapi kadang saya bertanya-tanya, berapa banyak dari kesibukan itu yang benar-benar perlu?

Dan pertanyaan yang lebih tidak nyaman mungkin adalah ini:

jika suatu hari tidak ada yang melihat kita bekerja—
apakah kita masih melakukan hal yang sama?

Penutup Versi 2 — Realization

Dari pengamatan kecil itu, saya mulai menyadari sesuatu yang cukup sederhana.

Kesibukan sering kali bukan tentang pekerjaan.

Ia tentang persepsi.

Kita ingin terlihat berguna. Kita ingin terlihat memiliki peran. Kita ingin terlihat bergerak di dunia yang selalu bergerak.

Tapi mungkin ukuran yang lebih jujur bukanlah seberapa sibuk kita terlihat.

Melainkan seberapa banyak hal yang benar-benar selesai ketika kesibukan itu berhenti.

Karena pada akhirnya, dunia tidak benar-benar membutuhkan orang yang terlihat sibuk.

Dunia membutuhkan orang yang melakukan sesuatu yang benar-benar berarti.

Siapa Pici?

Saya Pici, dengan nama asli Muhammad Fikri Abdul Zaki. Sudah 10+ tahun di dunia SEO, dan saya meyakini bahwa setiap klik harus berdampak ke bisnis, bukan cuma angka di dashboard.

Temui saya di:
Scroll to Top