Kita Menyukai Orang yang Membuat Kita Terlihat Baik

Suatu hari saya bertanya kepada seorang teman kerja setelah sesi wawancara calon karyawan.

“Menurutmu dia bagaimana?”

Teman saya tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak, lalu berkata,
“Orangnya enak diajak ngobrol.”

Saya bertanya lagi, “Maksudnya?”

Ia menjelaskan, “Ya… dia bikin kita kelihatan pintar. Dia mendengarkan. Dia mengangguk. Dia menanggapi dengan cara yang membuat kita merasa benar.”

Jawaban itu membuat saya diam sejenak.

Karena sebenarnya saya tahu maksudnya.

Dan semakin saya pikirkan, semakin terasa masuk akal: sering kali kita menyukai seseorang bukan karena siapa mereka sebenarnya, tetapi karena bagaimana kita terlihat ketika berada di dekat mereka.

Orang yang Membuat Percakapan Terasa Mudah

Dalam banyak percakapan, ada orang yang membuat kita merasa canggung. Kita merasa kata-kata kita biasa saja. Kadang bahkan terdengar bodoh.

Tapi ada juga tipe orang yang berbeda.

Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka tertawa pada cerita kita. Mereka mengajukan pertanyaan yang membuat kita bisa bercerita lebih jauh. Ketika kita selesai berbicara, kita merasa seperti baru saja menyampaikan sesuatu yang cukup menarik.

Kita merasa didengar.

Lebih dari itu, kita merasa menjadi versi diri yang lebih baik.

Tanpa sadar, kita mulai menyukai orang itu.

Bukan karena mereka melakukan sesuatu yang luar biasa.

Melainkan karena bersama mereka, kita terlihat lebih baik.

Mengapa Kita Mudah Menyukai Orang Seperti Itu

Fenomena ini sebenarnya terjadi di banyak tempat.

Di kantor, misalnya.

Ada orang yang selalu membuat atasannya merasa ide-idenya bagus. Ia menanggapi dengan antusias. Ia menambahkan sedikit perspektif yang memperkuat gagasan itu. Tanpa harus menjilat, ia membuat orang lain merasa dihargai.

Tidak heran jika orang seperti ini sering dianggap “enak diajak kerja”.

Atau dalam pertemanan.

Ada teman yang jika kita bercerita, responsnya sederhana: “Oh ya?”
Percakapan cepat mati.

Ada juga teman yang berkata, “Serius? Terus bagaimana ceritanya?”

Kalimat kecil seperti itu membuat kita ingin melanjutkan cerita.

Bersama orang seperti itu, percakapan terasa hidup. Kita merasa menarik. Kita merasa punya sesuatu untuk dibagikan.

Dan lagi-lagi, kita menyukai mereka.

Cermin yang Baik

Menariknya, sering kali kita mengira alasan kita menyukai seseorang adalah karena kepribadian mereka.

Padahal sebagian dari itu mungkin karena refleksi diri kita sendiri.

Mereka memberi ruang bagi kita untuk terlihat lucu.
Mereka memberi ruang bagi kita untuk terlihat cerdas.
Mereka memberi ruang bagi kita untuk terlihat berarti.

Dalam arti tertentu, mereka seperti cermin yang baik.

Cermin yang tidak memutarbalikkan siapa kita, tetapi menampilkan sisi yang paling enak dilihat.

Dan siapa yang tidak suka melihat dirinya dalam cahaya yang baik?

Orang yang Tidak Selalu Menjadi Pusat Perhatian

Ini juga menjelaskan mengapa beberapa orang terasa sangat menyenangkan berada di dekatnya, meskipun mereka tidak selalu menjadi pusat perhatian.

Mereka tidak selalu berbicara paling banyak.

Justru sebaliknya.

Mereka memberi ruang.

Mereka tidak buru-buru memotong cerita. Mereka tidak tergesa mengalihkan topik kembali ke diri mereka sendiri. Mereka membuat orang lain merasa percakapannya penting.

Kadang orang seperti ini tidak kita ingat karena kalimat-kalimat brilian yang mereka ucapkan.

Kita mengingat mereka karena perasaan yang kita rasakan setelah berbicara dengan mereka.

Perasaan bahwa kita dihargai.

Perasaan bahwa kita menarik.

Perasaan bahwa kita didengar.

Kalimat yang Semakin Sering Terasa Benar

Ada satu kalimat yang semakin sering saya sadari kebenarannya:

Kita tidak selalu menyukai orang yang paling pintar di ruangan.
Kita sering menyukai orang yang membuat kita merasa pintar.

Dan mungkin itu bukan hal yang buruk.

Karena pada akhirnya, hubungan antarmanusia sering kali bukan soal siapa yang paling benar atau paling hebat.

Melainkan siapa yang membuat orang lain merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.

Penutup Versi 1 — Refleksi Terbuka

Sejak percakapan kecil dengan teman saya hari itu, saya mulai memperhatikan sesuatu dalam interaksi sehari-hari.

Orang-orang yang paling menyenangkan diajak bicara sering kali bukan mereka yang memiliki cerita paling hebat.

Melainkan mereka yang membuat orang lain ingin bercerita.

Dan kadang saya bertanya pada diri sendiri:

ketika orang lain berbicara dengan saya,
apakah mereka pulang dengan perasaan didengar—
atau hanya merasa menjadi penonton dari cerita saya?

Penutup Versi 2 — Realization

Percakapan kecil dengan teman saya waktu itu mengubah cara saya melihat interaksi dengan orang lain.

Saya dulu berpikir orang yang disukai adalah mereka yang paling menarik.

Sekarang saya mulai curiga, mungkin sebaliknya.

Orang yang paling disukai sering kali adalah mereka yang membuat orang lain merasa menarik.

Dan mungkin itu salah satu bentuk perhatian paling sederhana yang bisa kita berikan kepada sesama manusia:

membuat mereka pulang dari sebuah percakapan dengan perasaan bahwa diri mereka—cukup berarti untuk didengarkan.

Siapa Pici?

Saya Pici, dengan nama asli Muhammad Fikri Abdul Zaki. Sudah 10+ tahun di dunia SEO, dan saya meyakini bahwa setiap klik harus berdampak ke bisnis, bukan cuma angka di dashboard.

Temui saya di:
Scroll to Top