
Jam 03.17
Saya membuka mata lagi.
Ini mungkin sudah yang ke sekian kali malam itu. Posisi tidur sudah diganti berkali-kali. Bantal sudah dibalik. Selimut sudah ditarik, dilepas, lalu ditarik lagi.
Tidur tetap tidak datang.
Di titik tertentu, kita mulai tahu bahwa malam ini sudah “hilang”. Bukan malam untuk tidur, tapi malam untuk menunggu pagi.
Lucunya, tubuh tetap berada di kasur, seolah-olah masih berharap sesuatu berubah.
Menyerah dengan Cara yang Tenang
Sekitar jam 04.30 saya akhirnya berhenti mencoba.
Bukan menyerah dalam arti dramatis. Lebih seperti keputusan kecil:
ya sudah, mungkin memang tidak tidur malam ini.
Aneh rasanya.
Begitu kita berhenti memaksa diri untuk tidur, semuanya justru sedikit lebih tenang.
Pikiran yang tadi berisik perlahan melambat. Badan masih lelah, tapi setidaknya tidak lagi frustrasi.
Di luar, suara motor pertama mulai lewat. Langit perlahan berubah warna.
Dan kita sadar: pagi sudah datang.
Pagi yang Terasa Berbeda
Pagi setelah tidak tidur punya rasa yang berbeda.
Bukan hanya karena mata terasa berat atau kepala terasa sedikit kosong. Tapi ada sensasi aneh seolah-olah kita sudah “hidup” lebih lama dari orang lain hari itu.
Ketika orang lain baru bangun, kita sudah terjaga berjam-jam.
Ketika orang mulai membuka laptop atau memesan kopi pertama mereka, kita sudah melewati satu malam penuh tanpa jeda.
Ada sedikit absurditas di situ.
Dunia terlihat segar dan baru, sementara kita merasa seperti sudah menempuh perjalanan panjang.
Dunia Tetap Berjalan Normal
Hal yang paling menarik dari pagi seperti ini adalah: dunia tidak berubah.
Alarm tetap berbunyi.
Pesan tetap masuk.
Pekerjaan tetap menunggu.
Tidak ada notifikasi dari kehidupan yang berkata,
“Anda tidak tidur semalam, silakan istirahat dulu hari ini.”
Hari tetap berjalan seperti biasa.
Jadi kita ikut berjalan juga.
Membuka laptop. Membalas pesan. Menghadiri percakapan. Kadang dengan secangkir kopi tambahan yang sebenarnya tidak terlalu membantu.
Kabut Tipis di Siang Hari
Biasanya ada satu momen di tengah hari ketika rasa lelah benar-benar terasa.
Bukan lelah dramatis. Lebih seperti kabut tipis di kepala.
Kita membaca sesuatu dua kali.
Kita lupa apa yang baru saja ingin kita lakukan.
Kita membuka tab di browser lalu lupa tujuannya apa.
Hal-hal kecil seperti itu terasa sedikit lebih sering terjadi.
Tapi anehnya, hari tetap bergerak maju.
Mungkin Banyak Orang Mengalami Hal yang Sama
Kadang ketika memperhatikan orang di sekitar—di kantor, di kafe, atau di transportasi—saya mulai curiga banyak orang mungkin juga sedang menjalani hari yang sama.
Seseorang terlihat menguap cukup sering.
Seseorang memesan kopi kedua sebelum jam sepuluh pagi.
Seseorang menatap layar agak lama sebelum mulai mengetik lagi.
Mungkin mereka juga melewati malam yang panjang.
Hanya saja kita jarang membicarakannya.
Tubuh yang Ternyata Cukup Tangguh
Ada sesuatu yang sedikit lucu dari pengalaman tidak tidur.
Di malam hari kita merasa sangat rapuh. Seolah-olah besok akan menjadi hari yang sangat berat.
Tapi ketika pagi benar-benar datang, ternyata kita masih bisa menjalani hari itu.
Tidak dengan performa terbaik, tentu saja. Tapi cukup.
Kita masih bisa berpikir. Masih bisa berbicara. Masih bisa menyelesaikan beberapa hal.
Tubuh manusia ternyata cukup tangguh.
Catatan Kecil dari Malam yang Panjang
Saya tidak akan merekomendasikan insomnia sebagai gaya hidup.
Tidur yang cukup jelas jauh lebih menyenangkan.
Tapi setiap kali melewati pagi setelah malam tanpa tidur, selalu ada satu hal kecil yang terasa menarik.
Kita jadi sadar bahwa hidup tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal.
Kadang kita memulai hari dengan energi penuh.
Kadang kita memulai hari dengan baterai setengah kosong.
Dan ternyata dunia masih bisa dijalani juga.
Tidak semua hari dimulai dari istirahat yang sempurna.
Kadang sebuah hari hanya dimulai dari keputusan sederhana: tetap bangun dan menjalani apa yang ada di depan kita.
Siapa Pici?
Saya Pici, dengan nama asli Muhammad Fikri Abdul Zaki. Sudah 10+ tahun di dunia SEO, dan saya meyakini bahwa setiap klik harus berdampak ke bisnis, bukan cuma angka di dashboard.
